Monday, 23 June 2014

5 Negara dengan Tentara Cyber Terkuat

Perang antar negara di era modern tidak semata melibatkan persenjataan berat. Namun juga serangan cyber yang dampaknya tidak bisa dipandang remeh.

Beberapa negara memang sangat serius mengembangkan kapabilitas pertahanan maupun serangan cyber-nya. Anggaran besar pun dikucurkan dan para hacker berbakat direkrut.
1.China
China memang tidak pernah terbuka mengungkap kekuatan tentara cyber-nya. Namun mereka diduga kuat terlibat dalam berbagai serangan cyber skala besar ke negara lain, terutama ke Amerika Serikat.

Misalnya China dituding pernah menyerang sistem komputer AS secara masif di tahun 2002, yang diberi kode nama Titan Rain. Saat itu, China berhasil meraup sekitar 20 terabytes data dari jaringan komputer AS.

Tentara cyber China kabarnya dimobilisasi oleh People's Liberation Army dan juga melibatkan masyarakat sipil. Amerika Serikat sendiri sangat waspada terhadap kekuatan cyber China.

"Dengan begitu majunya kapabilitas operasi cyber China saat ini, mereka bisa menggunakannya untuk melakukan bermacam serangan cyber yang tak bisa dibalas Amerika, bahkan mungkin juga tidak bisa dideteksi," demikian pernyataan US-China Economic and Security Review Commission.
2.Amerika Serikat
Amerika Serikat mendedikasikan cukup banyak sumber daya untuk memperkuat kemempuan cyber. Di antaranya, dengan mendirikan United States Cyber Command pada tahun 2009.

Unit tersebut bertanggungjawab mempertahankan AS dari serangan cyber yang sering menerpa mereka dan mempertahankan infrastruktur krusial. Selain itu juga melancarkan serangan ke negara lain jika diperlukan.

AS sendiri mencurigai China sangat banyak melakukan serangan pada mereka sehingga mereka sangat waspada terhadap Negeri Tirai Bambu ini. Meskipun memang belum ada bukti kuat bahwa serangan tersebut disponsori oleh negara, kecuali bahwa asal serangan dipastikan dari China.

Lembaga lain yang terlibat dalam pertahanan cyber AS adalah National Security Agency. Mantan presiden George W Bush pernah menyatakan NSA melancarkan serangan cyber secara terorganisir.
3.Inggris
Inggris juga serius mempersiapkan amunisi perang di dunia maya. Belum lama ini, negeri kerajaan itu mendirikan lembaga khusus bernama Research Institute in the Science of Cyber Security (RISCC).

Organisasi baru ini menghimpun para pakar ilmu sosial, matematika dan ilmu komputer dari berbagai universitas terkemuka di Inggris. Mereka akan bersatu mencari solusi untuk menghadang ancaman cyber yang ditujukan ke Inggris.

Inggris juga sering mengadakan program pelatihan bernama Cyber Security Challenge. Program ini melatih para hacker agar mampu menghadapi tantangancyber masa depan.

Organisasi intelijen Inggris MI6 juga gencar melakukan serangan cyber. Mereka tercatat pernah membobol website milik Al Qaeda.
4.India
India juga cukup sering dilanda ancaman cyber. Tak tanggung-tanggung , mereka pun memperkuat diriantara lain dengan melatih sekitar 500 ribu pakar komputer.

"Kami harus melindungi sistem kritikal di pemerintahan maupun di sektor swasta yang penting seperti perbankan dan telekomunikasi," kata Kamlesh Bajaj, Data Security Council of India.

India memang menghadapi berbagai serangan cyber yang cukup masif. Sebagian di antara serangan tersebut berasal dari China.

Tentara cyber India juga cukup aktif melancarkan serangan di saat-saat tertentu. Di antaranya ke Pakistan yang meskipun tetangga dekat, kerap berselisih dengan India.
5.Rusia

Sebagai negara kuat, Rusia juga punya kapabilitas cyber yang tidak bisa dipandang remeh. Mereka punya lembaga khusus pertahanan cyber, seperti Russian Cyber Forces.

Tentara cyber Rusia diduga kuat pernah melakukan serangan hebat ke Estonia pada tahun 2008. Ketika itu, website penting di Estonia banyak yang tumbang dan mengganggu jalannya negara.

Anggaran yang disediakan Rusia untuk pertahanan cyber diestimasi sebesar USD 127 juta pada tahun 2008. Tentu jumlahnya meningkat pada saat ini.

Dan setidaknya 7.300 pakar internet dan komputer telah dihimpun untuk memperkuat kapabilitas cyberNegeri Beruang Merah tersebut.

6 Hacker Remaja yang Mengguncang Dunia Komputer

Para hacker sering dinilai punya skill tinggi dalam dunia komputer. Tidak hanya dimonopoli kaum dewasa, banyak juga remaja yang menjadi hacker.
Bahkan beberapa dari mereka sudah mencetak 'prestasi' yang menghebohkan meski tidak pantas diteladani. Dari membobol website perusahaan sampai meraup uang yang tidak sedikit.
1. Pembobol CIA & Pentagon
Pada tahun 2011, dua orang remaja Inggris menjadi perhatian luas dari publik. Mereka adalah Ryan Cleary, 20 tahun serta Jake Davis yang baru berumur 19 tahun.
Keduanya melancarkan aksi serangan ke website papan atas. Termasuk website CIA, Pentagon, Sony dan Nintendo yang sempat mengalami gangguan akibat serangan tersebut.
Yang menghebohkan, mereka juga berhasil membobol website media ternama Inggris, The Sun. Headline The Sun mereka ganti yang mengabarkan berita hoax bahwa pemilik media itu, Rupert Murdoch, meninggal dunia.
Jake dan Ryan adalah anggota Lulszec, sebuah kelompok hacker yang kerap melakukan serangan ke lembaga terkenal secara sporadis. Mereka sempat menantang otoritas untuk menemukan dan melakukan penangkapan.
Kepolisian Inggris Scotland Yard dan FBI bekerja sama untuk memburu keduanya. Akhirnya, keduanya berhasil ditangkap dan saat ini sedang menghadapi proses pengadilan dengan ancaman hukuman penjara.
2. Mencuri Lagu Penyanyi Terkenal
Tahun 2011, seorang hacker yang menamakan dirinya DJ Stolen jadi pemberitaan besar. Dia yang kala itu masih berusia 18 tahun menjebol komputer personal para penyanyi terkenal.
Dia pun berhasil mencuri lagu Lady Gaga, Kesha, Leona Lewis, Justin Timberlake, dan Mariah Carey yang belum dirilis ke publik. Kemudian lagu itu dijual di internet.
Dia bahkan berhasil mencuri foto mesum dari komputer Kesha. Sang hacker berhasil ditangkap di pengadilan dan dijatuhi hukuman.
Pengadilan kota Duisburg, Jerman, menilai bahwa sang remaja hanya berniat unjuk gigi dan tidak punya motif kriminal. Namun dia tetap dihukum penjara selama 18 bulan dan juga harus menjalani terapi kecanduan internet.
3. Membobol Game Call of Duty
Seorang remaja di Irlandia yang tidak disebutkan namanya membobol server game terkenal, Call of Duty. Dia pun mencoba menipu dan mencuri informasi para pemainnya.
Remaja tersebut diketahui baru berumur 14 tahun dan masih tinggal bersama ibunya. Namun beruntung, kepintaran remaja tersebut tidak membuatnya berurusan dengan hukum.
Raksasa teknologi Microsoft malah terkesan dengan ulah sang remaja. Dan berniat untuk mempekerjakannya.
General Manager Microsoft Irlandia, Paul Rellis, menilai sang remaja punya bakat besar. Dan ia berniat mengarahkanya ke jalan yang benar.
4. Bobol iPhone & Bikin Apple Kelimpungan
Nicholas Allegra adalah seorang remaja 19 tahun ketika dia berhasil membobol sistem codin Apple dan mengeksploitasinya. Sehingga memungkinkan user menginstall aplikasi apapun tanpa batasan.
Nicholas pun merilis kode yang dinamakan JailBreakMe yang memungkinkan user terbebas dari batasan yang dilakukan Apple di ihone dan iPad.
Praktek yang disebut sebagai jailbreak itu sempat meresahkan Apple. Sebanyak 1,4 juta user sempat memakai software temyan Nicholas.
Meski mengesalkan Apple, aksi Nicholas mendapat pujian dari beberapa pihak. Seperti dari Charlie Miller, mantan analis di National Security Agency (NSA).
"Saya kira tidak ada yang bisa melakukan hal itu dalam waktu tahunan. Dia sungguh menakjubkanku," kata Miller. Kabar terbaru, dia direkrut oleh Google.
5. Membobol 259 Website Perusahaan
Seorang remaja berusia 15 tahun ditahan kepolisian negara Austria. Ia dituding melakukan aksi hacking besar-besaran ke 259 perusahaan hanya dalam waktu 3 bulan.
Setiap hari, rata-rata dia membobol 3 website. Aparat pun bertindak dan menangkapnya. Remaja yang tak disebut namanya itu pun mengakui semua perbuatannya.
Sang remaja pun menjadi hacker termuda yang pernah ditangkap di Austria. Menteri Dalam Negeri Austria, Mikl Leitner pun mengakui kelemahan sistem sekuriti dalam website yang dibobol.
"Peristiwa ini menunjukkan lemahnya sistem komputer dan betapa pintarnta anak muda saat ini," tukas Mikl.
6. George Hotz

George Hotz memang bukan remaja sembarangan. Dia pernah membobol proteksi iPhone pada di 2007. Kala itu, usianya baru 17 tahun.
Tidak puas, hacker tersebut juga menembus sistem keamanan PlayStation 3 hingga membuat pihak Sony bak kebakaran jenggot. Bahkan mengajukan tuntuan hukum.
kibat ulah GeoHotz, banyak gamer PlayStation 3 (PS3) yang menggunakan software ilegal untuk mengakses PlayStation Network
Sony Computer Entertainment America (SCEA) akhirnya mengumumkan penyelesaian gugatan yang diajukan kepada sang hacker bernama GeoHotz di pengadilan San Francisco, California.
Sebagai bagian dari perjanjian, pihak Sony sepakat untuk mengentikan tuntutan kepada GeoHotz. Imbasnya, sang hacker pun dilarang 'mengoprek' produk-produk Sony seumur hidupnya.

Mengenal Anonymous, Grup Hacker Paling Berpengaruh di Dunia.

Sepak terjang Anonymous memang sering mengebohkan. Kelompok hacker ini sudah berulangkali menggeber serangan ke website penting.
Sulit diketahui siapa saja yang tergabung dalam Anonymous. Jika tampil di depan publik, mereka biasanya memakai topeng ala Guy Fawkes, seorang aktivis Inggris terkenal di zaman dahulu.

1. Lahir Tahun 2003
Cikal bakal kelompok Anonymous ini dilaporkan berasal dari tahun 2003. Awalnya berasal dari forum internet bernama 4chan.
Anonymous punya beragam misi. Terkhusus, mereka menentang sensor internet dan pengawasan online oleh pemerintah. Sehingga seringkali mereka menyerbu website pemerintah sebagai tanda protes.
Anonymous juga anti terhadap paham scientology, korupsi, dan homophobia. Padahal pada awalnya, kelompok komunitas online ini dibuat untuk tujuan senang-senang.
Anonymous memang bukan benar-benar sebuah organisasi. Mereka adalah grup besar individual yang mempunyai ketertarikan yang sama. Sehingga sering dikatakan semua orang bisa menjadi Anonymous.
Sejak tahun 2008, Anonymous semakin serius dalam aksi hacktivist, yaitu melakukan hack untuk misi tertentu. Mereka dijuluki sebagai Robin Hood digital dan dikenal memperjuangkan kebebasan informasi dan akses internet.
Aksi hack mereka semakin liar dan menyerang website-website penting. Sehingga majalah ternama Time memasukkan nama mereka sebagai salah satu kelompok paling berpengaruh di duniapada tahun 2012.

2. Asal Kata Anonymous
Nama Anonymous sendiri terinspirasi oleh anonimitas user yang biasa memposting sesuatu di internet. Ya, banyak orang lebih memilih tidak menyebut identitas aslinya di dunia maya.
Konsep Anonymous semakin mantap pada tahun 2004. Ketika itu, administrator di forum 4chan mengaktivasi protokol Forced-Anon yang membuat semua postingan bernama Anonymous.
Anonymous pun merepresentasikan sebuah kelompok individu yang tidak bernama. Anggota Anonymous terdiri dai banyak pengguna forum internet.
Mereka memobilisasi serangan atau misi melalui berbagai wadah. Seperti di 4chan, YouTube, sampai melalui Facebook.
"Setiap orang yang ingin bisa menjadi Anonymous dan bekerja dengan tujuan tertentu. Kami setuju dengan semua agenda namun beroperasi secara independen," tukas seorang anggotanya.
Salah satu semboyan mereka yang terkenal adalah We are Anonymous. We are Legion. We do not forgive. We do not forget. Expect us.

3. Serangan ke Website Penting
Anonymous sudah sering melakukan serangan ke berbagai website penting. Biasanya sebagai tanda protes atau ketidaksetujuan.
Pada tahun 2009 setelah Pirate Bay terbukti bersalah atas kasus hak cipta, Anonymous melancarkan serangan melawan organisasi International Federation of the Phonographic Industry (IFPI).
Organisasi tersebut termasuk yang menentang keberadaan Pirate Bay. Aksi serupa terjadi tahun 2012 lalu ketika website Megaupload ditutup.
Hacker Anonymous berhasil melumpuhkan situs Departemen Kehakiman AS, FBI, dan Motion Picture Association of America (MPAA). Semuanya dinilai sebagai pihak yang menggembosi Megaupload.
Anonymous juga pernah melumpuhkan situs yang mengandung pornografi anak. Pada tahun 2008, mereka melancarkan serangan online besar-besaran pada kelompok agama Scientology.
Tidak jarang mereka melakukan serangan ke website pemerintah berbagai negara. Mereka pernah menumbangkan berbagai situs penting Israel sebagai protes serangan brutal mereka ke Palestina. Mereka sempat mengumbar 5000 data pribadi pejabat Israel.

4. Anggota yang Tertangkap
Beberapa anggota Anonymous berhasil ditangkap aparat. Tahun 2010, aparat di Belanda menangkap seorang remaja usia 16 tahun karena menyerang website Visa, Mastercard dan PayPal.
Pada bulan Januari 2011, kepolisian di Inggris berhasil menangkap lima orang hacker yang berhubungan dengan Anonymous.
Juni 2011, kepolisian di Spanyol menahan tiga orang yang masuk jaringan Anonymous. Ketiganya menyerang website pemerintah Mesir, Aljazair, Iran, Chile dan Selandia Baru.
Satu kasus yang cukup menonjol adalah penangkapan Christopher Weatherhead. Dia mengorganisasi serangan DDos pada PayPal dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara.
Masih banyak lagi kasus penangkapan hacker Anonymous. Namun tampaknya mereka tidak kapok dan akan terus melakukan misinya.

Mereka yang Jadi Bulan-bulanan Hacker China

Para peretas dari Negeri Tirai Bambu selama ini memang dikenal dengan aksinya di kalangan under ground. Tak jarang, target yang dibidik adalah para 'raksasa'.

Sebut saja nama Google, Apple, perusahaan minyak, hingga lembaga pemerintah Amerika Serikat sempat jadi bulan-bulanan hacker China.

Namun soal sosok yang menjadi dalang di balik akse penyerangan tersebut hingga saat ini masih abu-abu. Yang pasti sejumlah laporan cuma menyebut itu berasal dari Negeri Tirai Bambu.

1. Google

Pada tahun 2013, Google mengungkap adanya serangan yang disebut berasa dari China. Tujuan dari aksi diklaim untuk mencuri intelektual properti dari raksasa internet itu.

Investigasi lebih lanjut kemudian menjabarkan bahwa serangan tersebut diketahui tak hanya menyasar Google seorang. Namun juga melandar sekitar 20 perusahaan lain dari aksi yang sama.

Tak berhenti sampai di situ, setahun berselang atau di tahun 2011, Google juga dilaporkan diserang oleh peretas yang mengincar data akun dan password di Gmail.

Lebih khusus, data-data yang diincar merupakan milik pejabat pemerintah, aktivis, dan jurnalis.

2. Satelit AS

Satelit milik pemerintah Amerika Serikat juga sempat dilaporkan menjadi aktivitas penyusupan oleh peretas dari China. 

Kejadian ini berlangsung dalam kurun waktu 2007 hingga 2008 dan terjadi setidaknya selama empat kali.

Menurut sebuah laporan yang diungkap di tahun 2011, pelaku diduga kuat juga berasal dari jaringan hacker China.

Tidak disebutkan apa tujuan dari serangan itu, namun yang pasti hal ini kembali menyudutkan para peretas dari Negeri Tirai Bambu.

3. Perusahaan Minyak

Tak cuma lembaga pemerintah dan raksasa internet, hacker China juga diketahui pernah membidik perusahaan minyak yang sebagian besar milik negara-negara barat.

Menurut laporan dari perusahaan keamanan McAfee, suatu perusahaan minyak dan gas yang tidak disebutkan namanya sempat disusupi sistemnya pada November 2009 silam.

Pelaku dilaporkan coba menyusup demi mendapatkan informasi rahasia dari perusahaan tersebut. Sayang, tidak disebutkan lebih lanjut oleh McAfee, soal data apa yang diincar.

Namun diketahui bahwa pelaku menerobos dari server yang berada di Amerika Serikat dan Belanda.

4. Kadin AS

Chamber of Commerce United States of America alias Kadin Amerika Serikat juga sempat diketahui menjadi korban penyusupan hacker China.

Aksi tersebut dilaporkan terjadi pada bulan Mei 2010 dan menyasar informasi-informasi yang tersimpan di sitem Kadin AS.

Tentu saja, Kadin AS patut khawatir terhadap data yang kemungkinan dicuri. Sebab dilaporkan, informasi yang berpindah tangan itu termasuk proses dan hasil lobi-lobi bisnis dari organisasi tersebut.

5. Dalai Lama

Hubungan pemerintah China dengan Dalai Lama yang kurang akur memang sudah jadi rahasia umum. 

Akibatnya, tokoh dunia dari Tibet itu pun sempat jadi sasaran aksi peretasan. 

Grup hacker yang diketahui berbasis di barat daya China dilaporkan mencoba mencuri dokumen di kantor Kementerian Pertahanan China dan kantor Dalai Lama.

Kejadian ini dilaporkan oleh sekelompok peneliti dari kanada pada tahun 2010.

6. Pembela HAM

Pada tahun 2010, aksi peretas menyasar kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) China dengan serangan distributed denial of service (DDoS).

Bahkan situs milik kelompok Chinese Human Rights Defende dilaporkan diserang hingga 16 jam oleh para pelaku.

Kelompok lain yang juga menjadi korban adalah Civil Rights & Livelihood Watch, Canyu, New Century News, dan The Independent Chinese Pen Center.

7. Facebook, Twitter & Apple

Baru-baru ini, berturut-turut sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS) menjadi korban hacking. Di antara korban tersebut merupakan perusahaan sekelas Facebook, Twitter dan Apple.

Nama lain yang juga tak kalah mentereng adalah The New York Times, The Wall Street Journal, The Washington Post dan Departemen Energi AS pun jadi sasaran. Belum ada pernyataan resmi mengenai siapa di balik serangan ini. Namun sejumlah temuan mengarahkan tudingan pada China.

Perusahaan keamanan cyber Mandiant menduga, militer China melakukan operasi spionase cyber yang canggih terhadap puluhan perusahaan AS dan Kanada. Kesimpulan sementara ini didapat berdasarkan hasil temuan mereka.

Sebanyak 60 halaman laporan yang mereka rilis, memperlihatkan adanya keterkaitan serangan dengan sekelompok hacker China dan pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut.

Seperti dilansir CNN, Rabu (20/2/2013), hasil pelacakan Mandiant bermuara pada jaringan spesifik di Shanghai. Beberapa di antaranya bahkan mengarah pada markas salah satu kelompok militer rahasia China.

Satu hari setelah dugaan diarahkan ke China terkait aksi hacking yang menimpa sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat (AS), pemerintah China langsung merespons tudingan tersebut.

Dilansir The New York Times, Departemen Pertahanan China membantah tudingan itu salah besar. Menurut juru bicara Departemen tersebut, laporan firma keamanan cyber Mandiant salah besar.

Pada konferensi pers di Beijing, Departemen Pertahanan China mengatakan tuduhan tersebut telah mencoreng reputasi mereka. Juru bicara Departemen itu bahkan menantang untuk membuktikan hasil riset Mandiant.

Disebutkan sang juru bicara Geng Yansheng, justru China yang telah menjadi korban serangan cyber yang berasal dari AS. Menurutnya, Mandiant telah salah dalam mengenali aktivitas cyber China.

"Militer China memerintahkan untuk tidak mendukung aktivitas hacking apapun. Klaim yang disebutkan Mandiant bahwa militer China menjadi dalang spionase internet tidak punya bukti kuat," tegasnya.